NASKAH DRAMA “
TIGA SAHABAT “
Pada suatu masa terdapat tiga orang
bersahabat yang tinggal disebuah desa terpencil. Mereka. Bernama Toha, Siska
dan Aldi. Ketiga pemuda ini senantiasa bersama-sama baik dikala suka maupun
duka. Mereka berbeda dengan teman-temannya yang mewarnai hari-harinya dengan
hiburan, party, dan lain sebagainya layaknya kehidupan seorang remaja.
Pada suatu hari mereka berkumpul disebuah taman.
Toha: Wah.. Langitnya redup banget ya?! Jadi serem deh kalau
kaya gini.
Siska: Iya, kaya mau runtuh aja nih langit.
Aldi: Emang langit bisa runtuh ya? Oya, aku mau nanya sama
kalian 'tiyang langit tu dimana sih?'
Toha: Nggak tau juga gue. Mau nanya sama nyokap kayaknya dia
juga nggak tahu.
Siska: Nanya nyokap soal gituan, nanya soal kuliner pasti
dia punya banyak jawaban.
Aldi: Belum tentu, orang nyokap gue juga nggak ngerti soal
kuliner. Tapi nggak papa, yang penting dia sayang abis sama gue.
Siska: Pantesan kamu ogah nyari pacar, orang udah kenyang
sama kasih sayang ibu kamu.
Aldi: Masalah buat loe?
Siska: Ea enggak lah bro!
Toha: Eh udah2..
Siska: Ha, kamu kenapa sih masih demen ngejomblo aja?
Toha: Gue nggak demen kok
Siska: Terus kenapa nggak nyari pacar?
Toha: Nyarinya dimana ya?
Aldi: Kalau pagi ibu kamu kan ke pasar tu, nah ikut aja dia
nanti kamu akan nemu deh.
Siska: Heeemmm..
Toha: Oh gitu ya.. Ya udah deh, besok gue ikut ibu gue
kepasar barangkali aja bisa nemu yang kaya nyi roro kidul.
Siska: Terus abis itu kamu demam nggak bisa sembuh.
Aldi: Andai saja langit runtuh, kita sembunyi dimana ya?
Toha: Nggak tahu..
Siska: Nyebur laut
Aldi: Eh, jangan! Kamu ntar perut kamu jadi buncit
kebanyakan nelan air.
Toha: Bener tu, kamu kan cewek, harus tetap kurus kering
kaya bambu nggak kena ujan.
Tamat
NASKAH
DRAMA “KAU MILIKKU DAN JUGA MILIKNYA “
(Setting: di sebuah
taman kota pada sore hari)
Riza: Sayang, minggu depan ada acara ulang tahun sepupuku.
Aku mau ajak kamu datang ke pesta itu
Dian: (mencoba mengingat - ingat, apakah dia juga ada janji
kencan dengan Amin, pacarnya yang satu lagi)..hhmm..pengen siy, tapi lihat
nanti ya. Aku belum tahu minggu depan di kantor ada lembur atau tidak.
Riza: (yang sebenarnya sudah tahu kalau Dian ada kencan
dengan Amin)..duuh..diusahain donk. Kan aku juga pengen ngenalin kamu ke keluarga
besarku.
Dian: Iya..aku usahain..(tak lama kemudian HP Dian pun
berdering. Dian melirik layar HP nya dan ternyata Amin yang menelepon)
Riza: Kok ngga diangkat say?
Dian: ah ngga penting..dari temenku kok. Nanti aku telp
balik saja (sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya)
Riza: eh pinjam HP nya donk..aku mau sms temen kantorku
(sambil senyum - senyum usil)
Dian: pulsaku habis juga tuh (sudah mulai merasa tidak
nyaman)
Riza: oh ya sudah lah..yuuk kita pulang saja. Sudah sore nih
Dian: (merasa belum mendapatkan barang apapun hari itu, dia
berpikir keras tentang bagaimana caranya bisa mengajak Riza ke mall) kita ke
mall dulu yuuk..ngadem bentar gitu..sambil lihat-lihat
Riza: oh pengen ke mall? ayoo..
(kemudian mereka berdua jalan ke mall karena jarak antara
taman dan mall yang dekat)
(Setelah sampai di mall)
Dian: (sibuk memilih - milih baju dan sebuah di sebuah
butik)..bagus ngga say? pantes ngga aku pakai ini? (sambil bergaya bak foto
model)
Riza: oh bagus..makin cantik aja kamu (Riza yang tahu akal
bulus Dian yang selalu morotin uangnya mulai pasang strategi)
Dian: udah ini aja..setelah bayar kita pulang biar ngga
kemalaman (sambil membawa barang - barang belanjaannya ke kasir)
(Riza yang biasanya langsung mengikuti Dian ke kasir, saat
itu terlihat anteng di dekat kamar ganti dan pura-pura tidak mendengar ajakan
Dian)
Dian: (berteriak untuk kesekian kalinya)..Sayang..ini lho
sudah selesai dihitung belanjaannya
Riza: (sambil jalan mendekat) ya udah..tinggal dibayar kan
Dian: kok kamu gitu..kan biasanya kamu yang bayarin (sambil
marah teriak - teriak)
(tak lama kemudian Amin pun mendekat ke meja kasir)
Amin: oh ini juga yang biasa membayari barang - barang
belanjaanmu?
Dian: (dengan ekspresi yang kaget setengah mati)
eh..hmm...anu..kok kamu bisa disini?
Amin: aku memang sengaja datang kesini. Aku dan Riza sudah
tahu polah tingkahmu mempermainkan kamu
Riza: sudah puas kan kamu menghabiskan uang kami berdua
selama ini?
(petugas kasir mengingatkan Dian untuk segera membayar
barang belanjaannya karena jumlah orang yang antri semakin banyak)
Dian: (dengan tertunduk malu) maaf mbak, saya tidak jadi
beli semua barang-barang ini (kemuddian terdengar teriakan cemooh orang - orang
yangs edang antri di belakang Dian)
Amin & Riza: enak ya dibikin malu seperti sekarang. Kena
batunya kan sekarang.
(tanpa menjawab, Dian kemudian lari meninggalkan Riza dan
Amin
Tamat
NASKAH DRAMA “ PENGORBANAN ORANGTUA UNTUK ANAK “
Dina: Apa kabar sahabat?
Lia cs: Baik. Kamu sendiri gimana?
Dina: Alhamdulillah, sehat.
Lia: Gimana kabar Bapak kamu Din? Sudah baikan kan?
Dina: Alhamdulillah, sudah baikan kok. Terimakasih sudah
menanyakan kondisi orangtuaku.
Mifa: Emang Bapak kamu abis sakit ya Din?
Dina: Iya Mif, tapi sekarang sudah sembuh kok.
Mifa: Sorry Din, aku nggak sempat menjenguk kemarin soalnya
aku nggak tau. Syukur deh kalau sudah baikan.
Dina: Nggak papa kok Mif, thanks for care.
Deni: Din, sebaiknya kamu jagain Bapak kamu baik-baik.
Jangan biarkan dia terlalu banyak bekerja nanti bisa kambuh sakitnya, kan dia
udah tua.
Dina: Tentu Den! Setelah sembuh kemarin aku udah ngelarang
Bapakku untuk ngerjain yang berat-berat.
Deni: Bener tu Din.
Yoga: Kalau dipikir-pikir orangtua kita tu udah banyak
berkorban buat kita. Mestinya kita harus bisa menjadi anak yang tau balas budi.
Kita harus memberikan perhatian yang cukup kepada beliau. Membalas jasa-jasa
beliau kepada kita, dan berusaha membuat beliau merasa bangga dengan budi
pekerti kita.
Dina cs: Kamu benar sekali Ga. Kita tidak boleh menjadi anak
yang hanya bisa merepotkan orangtua. Kita harus membalas setiap pemberiannya
kepada kita. Menghargai pengorbanannya kepada kita. Tanpanya, bahkan kita tidak
tau apakah saat ini kita cukup makan.
Mifa: Jika kalian renungi, kita memang tidak akan sanggup
membalas jasa dan pengorbanan orangtua kita. Mereka mampu melakukan semuanya
untuk kita. Sesuatu yang tidak mampu dilakukannya pun bisa dilakukannya karena
demi masa depan anaknya. Oleh yang demikian, maka kita harus senantiasa
mengingatnya dan berusaha untuk memperlakukannya sebagai ratu dalam kehidupan
kita. Jangan pernah ada diantara kita lalai dan tidak peduli terhadap kondisi
orangtua kita, termasuk pada saat beliau sakit.
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar